Silsilah Pancaran Putih

Guang Ji adalah sebuah wadah keTuhanan yang menyebarkan hakekat kebenaran , dari tiada hingga ada, dari kecil hingga besar, ingin mencapai kestabilan dan kesempurnaan harus melalui proses perubahan dari masa ke masa, misalnya dari masa pembentukan , pertumbuhan dan pertahanan. 

Cin Kong Cu Se | Patriat Pancaran Putih

Ayam emas berkokok 3 kali pertanda akhir jaman. Hati adil tanpa keegoisan mengubah dunia. Kakek Guru menurunkan pusaka rahasia membuka jalan kesadaran. Memberi petunjuk, melintasi umat yang tersesat. Setiap hari menyempurnakan dan menerangi jiwa. Menembus langsung menuju gerbang roh sejati. Membimbing umat awam kembali ke kampung halaman. Mengadakan pertemuan akbar “Long Hua”.

Cin Kong Cu Se adalah Patriat ke-17 di daerah timur, juga sebagai Patriat pertama masa pancaran putih, merupakan penitisan dari Mi Le Ku Fo (Buddha Maiterya), terlahir di jaman pancaran putih. Kakek guru bermarga Lu, bernama (atas) Cong (bawah) Yi. Beliau dilahirkan pada masa Dinasti Ching tahun 1849 bulan 4 tanggal 24, di provinsi San Tong, kota Ci Ning. Nama pembinaan Beliau adalah Thong Li Ce, namun Beliau menyebut diri sendiri adalah Wu Sien Che Jen.

Semasa kecil telah kehilangan kedua orang tua, bersama dengan adik perempuannya hidup menderita, tinggal dirumah gubuk diluar kota (berjarak ± 5 km dari kota). Pada usia 22 tahun, beliau pergi ke provinsi He Bei, ikut militer di pos Ce Li. Setelah berusia 48 tahun, tiba-tiba beliau mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa. Selama 3 hari berturut-turut mendapat mimpi dari Lao Mu (Ibunda Suci), “Cepatlah menuju propinsi San Tong, kota Ching Cou, menemui kakek guru Ching Si. Jangan terlena dalam dunia fana”. Saat itu juga, kakek guru melepas pekerjaan dan tugasnya, menuju ke arah selatan menemui kakek guru patriat ke-16 (Liu Cu) untuk memohon Tao. Menyerahkan seluruh harta benda yang telah ditabung bertahun-tahun  berupa 100 keping uang perak, lalu membina diri di tempat tinggal Patriat Liu . Setiap hari mencari kayu bakar, menimba air, menanam sayur, menanak nasi, membina dan melatih diri dengan susah payah. Pada saat Patriat Liu  sudah berumur 50 tahun dan ingin mencari pengganti sebagai kakek guru, Lao Mu bersabda: “Orang bijak telah berada di depan mata,  jika bertanya dimanakah Maitreya, coba lihat dengan teliti di dalam Chii Ciang Che, orang yang memakai topi dari bulu kambing, mengenakan jubah biksu dan mengeluarkan kata-kata yang benar, memiliki hati welas asih, setia kawan serta sering beramal. Membuka mata lebar-lebar dalam membedakan jalan yang benar dan tidak, diantaranya terdapat satu titik. Pada kedua telapak tangannya terdapat gambar matahari dan bulan berputar sesuai kebenaran.”

Maka pada tahun 1905, bulan 3 tanggal 15, kakek guru menerima dan meneruskan Firman Tuhan sebagai penguasa langit pada masa pancaran putih, melintaskan umat manusia. Saat itu, baru diketahui bahwa di dalam Wejangan Lao Mu telah tersirat nama kakek guru, yaitu “Lu Cong Yi”.

Setelah kakek guru menerima mandat, membina di vihara Kuan Yin.  Kemudian Beliau kembali ke propinsi San Tong, kota Ci Ning (tempat kelahirannya) dan bersama-sama dengan adik perempuan dan dua keponakannya menyebarluaskan Tao, mendirikan Fo Thang dan melintaskan umat. Sampai tahun 1925 (tahun Ming Kuo ke-14), Tao sudah menyebar ke provinsi San Tong dan sekitarnya. Dibawah pimpinan kakek guru, ada 8 orang pemimpin besar. Pada tahun yang sama, bulan 2 tanggal 2, kakek guru mencapai kesempurnaan, tutup usia pada umur 76 tahun.

Semasa hidup, kakek guru membina bersih. Meskipun berusia lanjut, namun wajahnya masih tetap kemerahan sehingga beliau juga dijuluki “Ju Thong Cin Kong (????)”. Tahun berikutnya, bulan 3 tanggal 3, kakek guru meminjam raga umat yang bernama Yang Chun Ling yang tinggal di provinsi Shan Si, memberikan mukjizat selama 100 hari di provinsi San Tong, kota Ci Ning. menyampaikan “parita Cin Kong”. Juga menurunkan paritta Mi Le Cen Cing. Secara bersamaan, beliau menuliskan, “Angin meniup daun bambu, hewan naga menggerakan cakarnya, hujan menerpa  bunga he, burung hong mengangguk”, yang disebut “Cin Ci Chu Chang” (ayam emas berkokok pertama).

Pada tahun tahun 1929, kakek guru juga memberikan mukjijat dengan meminjam raga umat yang bernama Tu Yi Khun, dari provinsi He Nan selama satu bulan. Ini disebut “Cin Ci Er Chang” (ayam emas berkokok kedua). Kelak masih akan ada “Cin Ci San Chang” (ayam emas berkokok ketiga) di dunia untuk membuktikan kemuliaan Tao masa pancaran putih. Setelah kakek guru mencapai kesempurnaan, Lao Mu menganugerahkan gelar : “Cin Kong Cu Se”.

Thien Ran Ku Fo | Se Cun

Hati langit sepenuhnya baik maka roh sejati cemerlang, kemudian roh jatuh ke dunia kehilangan kesejatian, tradisi kuno yang tidak sesuai kebenaran membuat kekacauan, Ajaran Buddha jaya dengan pengembangan moral etika, Dibukakan 3 pusaka untuk membuka kunci tanpa lubang,

Anak-anak menikmati budi dari Ibunda Suci, satu jalan yang jelas, Guru menyelamatkan para murid untuk pulang bersama-sama

Thien Ran Ku Fo merupakan Patriat ke-18 dari ufuk timur, adalah salah satu patriat kedua pancaran putih bernama Cang Kuei Sheng atau Kuang Pi, bergelar suci Thien Ran Ku Fo, berasal dari kabupaten Ci Ning propinsi Shan Tong, merupakan titisan dari Buddha Ci Kung, terlahir pada tanggal 19 bulan 7 tahun 1889, bertepatan dengan terbakarnya menara langit di Bei Jing dan berubahnya warna air sungai kuning menjadi jernih secara mendadak. Bapak Guru memiliki penampilan yang istimewa. Kepala beliau berbentuk persegi dan bagian atas dari kepala . Beliau memiliki 2 kornea, pintar dan berbudi.  Ayah Se Cun bernama Yii Si dan Sang ibu bermarga Chiao. Bapak Guru terlahir di keluarga kecil yang sederhana dengan didikan moral yang tinggi. Pada tahun 1915, Beliau bertemu dengan guru Chu yang melintasi untuk memohon Tao, dimana kemudian hari Bapak Guru demikian yakin dan aktif dalam membina diri, serta mengikuti Guru Chu untuk membuka ladang beberapa tahun hingga berhasil melintasi 64 orang.

Aturan yang ditetapkan saat itu jika ingin melintasi satu tingkat arwah dari orang tua adalah harus melintasi 100 orang. Berkat ketulusan dari Bapak Guru, Patriat Lu (Kakek Guru) pun memohon petunjuk dari Ibunda Suci  yang kemudian bersabda :”Mulai dari orang ini, asalkan berhasil melintasi 64 orang, memiliki 1 pahala besar serta tulus dalam pembinaan diri, maka dapat melintasi 1 tingkatan arwah orangtua.” Pada tahun 1920, Guru Chu meninggal dunia. Bapak Guru pun mengikuti Kakek Guru untuk membina diri, sejak itu prestasi Tao Beliau  berkembang pesat, dan menjadi salah satu dari 8 murid utama. Pada tahun 1925 Kakek Guru wafat, Ibunda Suci memerintahkan adik Kakek Guru yang bernama Lu Cong Cie (jelmaan dari Dewi Kwan Im) untuk memegang firman Tuhan selama 12 tahun, Bapak Guru mengikuti petunjuk tersebut dan menjalankan kewajibannya. Pada tahun 1930, Ibunda Suci memberikan perintah kepada Bapak Guru dan Ibu Guru untuk bersama-sama menerima firman Tuhan, menjadi penerus nadi Tao, melintasi 3 alam, dan melaksanakan penyempurnaan di akhir zaman. Bapak Guru menerima mandat, penuh kesabaran dan bertanggung jawab, Para Suci memberikan kemukjizatan di berbagai tempat untuk membuktikan guru penerang berfirman Tuhan.

Pada tahun 1936, Se Cun menghadapi sebuah ujian dari pemerintah. Saat itu Beliau sempat dikurung di Ling Yii selama 300 hari. Inilah yang dinamakan 5 pendahulu menerima cobaan besar dan terkurung di Cin Ling. Sejak itu Tao terus berkembang. Pada tahun 1946, wadah ketuhanan telah tersebar ke seluruh daratan Tiongkok. Pada tahun 1947, Bapak Guru tiba di propinsi Se Chuan, pada bulan 8 pergi ke Wang Cia Than. Mendadak 1 buah yang aneh jatuh di depannya, beliau kaget dan merasa cemas. Sejak saat itu, kesehatan beliau semakin memburuk. Pada malam pertengahan musim gugur, seorang Guru Penerang wafat pada usia 59 tahun. Lima hari setelah meninggal (tanggal 20 bulan 8), Ibu Guru menyatakan Bapak Guru hadir memberikan petunjuk :”Dimakamkan di pinggir Danau Sii (West Lake), dekat telaga Yii Chiao, membelakangi Nan Phing Shan, menghadap Gunung Timur Phoenix, danau Si Ce di sebelah kiri, gunung Yii Huang di sebelah kanan.” Setelah mencapai kesempurnaan, Ibunda Suci menganugerahkan gelar  : Thien Ran Ku Fo.  

Cong Hua Sheng Mu | Se Mu

Cong Hua Sheng Mu adalah Patriat ke -18 dari Ufuk Timur, dan merupakan salah satu Patriat kedua di pancaran putih, bermarga Sun bernama (atas) Su (bawah) Cen, alias Ming Shan (gelar dalam wadah Ketuhanan adalah Hui Ming). Se Mu (Ibu Guru Suci) dilahirkan di provinsi San Tong, Kabupaten Tan, pada Dinasti Ching, tahun 1895  bulan 8 tanggal 28, merupakan titisan dari Bodhisatva Yue Hui. Sejak kecil, Beliau mendapat didikan ketat dari keluarga dan mempunyai penampilan sebagai wanita yang anggun.

Pada tahun 1918, Beliau bertemu dengan Kakek Guru Lu dan mendapatkan Tao. Karena ikrar yang demikian besar dan mendalam, beliau giat, ingin maju, dan tidak mau bermalas-malasan sehingga pada tahun 1930, Se Mu bersama-sama dengan Se Cun menerima Firman Tuhan. Meskipun memiliki status sebagai suami istri, tetapi tidak melakukan kewajiban sebagai suami istri. Yang Maha Kuasa menurunkan titah bahwa dalam melaksanakan tugas Ketuhanan ini, berdasarkan keadilan antara laki-laki dan perempuan, sehingga laki-laki dan perempuan bisa bersama-sama membina dan melaksanakan Tao. Itulah yang disebut dengan Tao diturunkan kepada rakyat biasa, keluarga dari kalangan rakyat jelata pun bisa sesuai dengan situasi membina diri.

Kehendak Tuhan Yang Maha Esa sukar untuk dilanggar. Kesaksian Para Suci di setiap kelas Sidang Dharma pun menunjukkan bahwa Se Mu memngemban tugas berat. Dengan kesucian hati lebih mementingkan Tao, Beliau mendampingi Se Cun melaksanakan tugas pelintasan tiga alam. Selama ribuan tahun, wanita tidak mendapatkan kesempatan ikut membina diri. Tetapi berkat budi Se Mu, maka kaum wanita juga mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Tao dan membina diri, sehingga budi besar Se Mu ini tidak boleh kita lupakan. Pada tahun 1947, tepat di hari perayaan Cong Chiu, Se Cun mencapai kesempurnaan dan Se Mu yang melanjutkan silsilah dari Tao ini, meneruskan tugas sebagai penguasa Tao.

Saat itu, situasi politik sangat kacau dan ujian dari pemerintah datang bertubi-tubi. Wadah Ketuhanan pun mulai goyah. Se Mu demi menolong umat mengurangi bencana, mulai menata kembali wadah Ketuhanan. Maka pada tahun 1948, diawali dari kota Cheng Tu, Chong Ching, Se Mu membuka kelas pertobatan di seluruh kota besar di Tiongkok, meneruskan estafet benang emas ini. Tahun 1949, setelah suhu politik di daratan Tiongkok berubah, Se Mu masih tetap tidak menghindar dari bahaya dan bencana. Beliau diam-diam pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan hati umat manusia. Sampai tahun 1950, demi meneruskan Firman Tuhan, berangkat dari Kota Shang Hai (melewati Kuang Cou dan Macao), Se Mu tiba di Hongkong. Tahun berikutnya, Beliau juga ke Malaysia menyebarkan Tao, melintaskan umat di Asia Tenggara. Tetapi karena kondisi dan lingkungan yang tidak cocok, maka pada tahun 1953, Beliau kembali ke Hongkong.

Pada tahun 1954, di bawah pengaturan Lao Chien Jen (Pai Shui Sheng Ti), akhirnya Se Mu dipindahkan ke Taiwan, dan menetap di Kota Thai Cong. Selama di Taiwan, ujian pemerintah masih tidak henti-hentinya berdatangan. Se Mu tidak tega melihat umat manusia dan murid-murid-Nya menerima penderitaan, hinaan dan siksaan. Maka Beliau berikrar untuk menanggung bencana dan penderitaan umat manusia. Sepanjang tahun tidak ke luar rumah, mengurung diri dari duniawi, memikul dosa umat manusia sehingga ujian dari pemerintah pelan-pelan mereda.

Pada tahun 1963, ujian datang lagi. Se Mu memohon welas asih Lao Mu (Ibunda Suci) dengan puluhan ribu sujudan untuk meniadakan ujian iblis, beliau rela seorang diri menanggung dan memikul segala bencana. Karena menanggung begitu banyak ujian iblis, kesehatan Se Mu semakin hari semakin menurun. Akhirnya, pada tahun 1975, bulan 2 tanggal 23, di tengah-tengah hujan petir yang dahsyat bersahutan, semua makhluk di antara langit dan bumi berduka karena seorang nabi pada jaman itu telah mencapai kesempurnaan di usia ke-81 tahun.

Se Mu menetap di Taiwan selama 21 tahun dan memberikan segenap jiwa raganya demi kelancaran pelaksanaan Tao. Karena budi besar Beliau melindungi umat manusia, maka Lao Mu memberi gelar kepada Beliau “Cong Hua Sheng Mu”

Pai Shui Sheng Ti | Lao Chien Jen

Lao Chien Jen (sesepuh agung) bermarga Han bernama (atas) En (bawah) Rong. Juga bernama Yi Lin, alias Cie Ching alias Cie Ching. Beliau dilahirkan di propinsi He Pei, kabupaten Ning He. Pada usia tua, menyebut dirinya sebagai Pai Shui Lao Jen. Beliau dilahirkan pada tahun 1901 bulan 3 tanggal 22. Tahun 1995 (tahun Ming Kuo ke-84), bulan 1 tanggal 26, Beliau mencapai kesempurnaan, tutup usia pada umur 95 tahun.

Lao Chien Jen dilahirkan pada saat negara sedang kacau. Pada waktu lahir, bersama dengan ibunya, Beliau pindah ke rumah kakek untuk menghindar dari kekacauan. Sejak dilahirkan, Lao Chien Jen sudah mempunyai hati berbakti kepada orang tua dan sangat pandai. Beliau rajin, hemat dan telah memahami budi pekerti mulia lainnya. Sejak kecil Lao Chien Jen sudah pandai membaca Se Shu (4 Buku) dan Wu Cing (5 Kitab Parita), telah memahami inti sari dari kebudayaan Tiongkok.

Ketika berusia 17 tahun, Lao Chien Jen keluar dari Kota Thien Cin untuk belajar berdagang. Dengan se-kuat tenaga, Beliau membuka pabrik tenun Ta Te Long, dan mendapat perhatian yang besar dari pengusaha yang lain. Saat berusia 20 tahun telah menjadi manajer. Usia 26 tahun menjabat sebagai direktur utama yang memiliki 400 orang lebih buruh. Usaha Beliau berkembang pesat dan terkenal di Tiongkok Utara.

Tahun Ming Kuo ke-27 (tahun 1938), karena terlalu lelah, Lao Chien Jen mengidap penyakit paru-paru stadium ke-3. Para dokter, baik dari luar maupun dalam negeri, menyatakan tidak berdaya menyembuhkan penyakit tersebut. Setelah melalui nasehat dari Tuan Sun Lan Fang, Beliau pergi memohon Tao. Pada bulan 7 tanggal 27, di Kota Thien Cin, Beliau menda-patkan Tao. Selanjutnya, berkat kesaksian dari Buddha Hidup Ci Kong, Lao Chien Jen mendapatkan petunjuk dan di dalam lubuk hati berikrar, “Kalau penyakit saya sembuh, maka pekerjaan dan keluarga akan saya tinggalkan, dan sepe-nuh hati membantu Tuhan Yang Maha Esa melaksanakan Tao”. Maka sejak hari itu, penyakit Beliau tanpa diobati, sembuh dengan sendirinya. Dan segera mengorbankan diri untuk melaksanakan Tao. Sepenuh hati menuruti kehendak Tuhan.

Tahun Ming Kuo ke-30 (tahun 1941), Lao Chien Jen menerima Firman   Tuhan   menjadi   Tien Chuan Se, sepenuh tenaga melindungi dan mendukung Guru Penerang membuka ladang. Tahun Ming Kuo ke-37 (tahun 1948), Beliau sebenarnya ingin pergi ke Si An membuka ladang. Tetapi karena Beliau mendapat nasehat dari Ibu Guru Suci, maka pada bulan 7 tanggal 8, Beliau berbalik menuju ke Taiwan membuka ladang. Namun pada tahun Ming Kuo ke-38 (tahun 1949), situasi di daratan Tiong kok berubah sehingga kabar berita antara Taiwan dan daratan Tiongkok terputus. Kehidupan juga memasuki masa sulit. Bahasa untuk berkomunikasi juga mengalami kendala. Tempat dan manusianya masih asing. Selain itu, ujian dari pemerintah tidak pernah berhenti. Namun, Lao Chien Jen dengan kekuatan yang luar biasa menghadapi fitnahan dan gosip,  mengalami  banyak  penderitaan. Selama 40 tahun karena terlalu lelah, sudah beberapa kali penyakitnya kambuh. Beruntung banyak umat dengan tulus memohon kepada Ibunda Suci untuk menambah usia Beliau sehingga Beliau bisa sehat kembali.

Lao Chien Jen seumur hidup berkorban, berkontribusi untuk umat, sekuat tenaga sepenuh hati sampai titik darah yang terakhir. Beliau telah membimbing sangat banyak umat pengikut, menyempurnakan banyak wadah Ketuhanan. Pada hari raya tahun baru Imlek, tahun Ming Kuo ke-84 (tahun 1995), Lao Chien Jen merasa kondisi tubuhnya mulai menurun, Beliau memahami jasa pahalanya mungkin sudah sempurna, sudah saatnya berpisah untuk selama-lamanya sehingga orang yang mendengarnya mencucurkan air mata.

Pada tahun Ming Kuo ke-94 (tahun 2005) di musim semi, umat pengikut Beliau memohon petunjuk. Beliau hadir mengikat jodoh di Fo Thang melalui “peminjaman raga” dengan gelar “Pai Shui Sheng Ti”. Nama harum seorang nabi pada zamannya tersohor selama-lamanya. Semangatnya akan selamanya diteladani oleh umat di dunia.

Ta Te Cen Cin | Liu Chien Jen

Liu Chien Jen, bernama (atas) Chian (bawah) Siang, juga bernama kecil Te Hua, alias Chun Hui. Beliau dilahirkan di propinsi He Pei kabupaten Ning He, pada tahun 1909 (3 tahun sebelum tahun Ming Kuo) bulan 6 tanggal 29. Dalam keluarganya, hanya ada dua saudara. Kakak beradik sangat akrab dan turun temurun semua berbakti kepada orang tua dan menghormati teman. Saat beranjak dewasa, Beliau berdagang. Karena sangat menjunjung tinggi kepercayaan, usahanya pun sangat lancar.

Pada tahun 1941 (tahun Ming Kuo ke-30), Liu Chien Jen bertemu Guru Penerang dan mendapatkan Tao. Maka sejak saat itu, Beliau bertekad menegakkan cita-cita membina diri dan sepenuh hati melintaskan umat. Pada tahun Ming Kuo ke-36 (tahun 1947), Beliau menerima perintah untuk meninggalkan tanah kelahiran menuju ke Taiwan, membuka ladang melintaskan umat. Pertama kali datang ke Taiwan, lingkungan dan umatnya masih sangat asing. Komunikasi bahasa pun menjadi sebuah hambatan. Beliau mengalami banyak kesulitan dan penderitaan.

Awalnya, Liu Chien Jen membuka usaha toko Thong Te, di kota Taipei pasar Tong Men untuk mendapatkan biaya hidup dan biaya keperluan pelaksanaan Tao.

Pada tahun Ming Kuo ke-38 (tahun 1949), politik di Taiwan bergejolak, sehingga bantuan dari Tiongkok daratan pun terputus. Saat itu masih ada ujian dari kalangan peme-rintahan. Beliau sempat dipenjara selama tiga bulan. Berturut-turut Chien Jen dikepung dan dikurung lebih dari lima kali. Selama dalam tahanan, Beliau juga mendapat siksaan dan hukuman yang luar biasa kejamnya. Namun Beliau tidak menyerah, juga tidak takut. Akhirnya, Beliau bisa menerobos semua kesukaran dan rintangan.

Selepasnya dari tahanan, Beliau pindah ke kota Tai Nan jalan Kai Yuan. Kehidupan Chien Jen sangat miskin, sederhana dan sangat menderita. Beliau sangat hemat. Pagi hari Beliau menelusuri jalan, menjual makanan “Wu Siang Tou Kan”. Malam hari Beliau membuka ladang menyebarkan Tao. Ada sebuah syair dari Chien Jen yang menceritakan, “Bangun pagi menjinjing ke-ranjang menelusuri jalan raya dan kampung kecil. Sepanjang jalan menjual “Wu Siang Tou Kan”. Meskipun tenggorokan mengering, namun tidak ada orang yang peduli. Seluruh tubuh sangat lelah dan kedua kaki pegal linu.”

Syair ini sudah cukup membuktikan penderitaan dan susah payah dari Chien Jen. Demi membuka ladang wadah Ketuhanan, terus berkontribusi dan berkorban. Sebuah semangat maha besar yang tidak gentar terhadap penderitaan.

“Dosa karma anak sangat berat. Kesalahan anak juga sangat dalam. Semua cobaan dari iblis berasal dari diri sendiri, mana berani anak mengeluh kepada Tuhan atau menyalahkan orang lain. Murid mengemban ikrar, memiliki niat hati untuk menolong umat dunia. Tapi yang telah murid lakukan sungguh mengecewakan dan mensia-siakan karunia Tuhan dan budi Guru.”

Dari awal sampai akhir, sepenuh hati sepenuh tenaga, demi umat sampai titik darah yang terakhir. Semangat membina diri dan melaksanakan Tao yang tidak pernah memikirkan hidup atau mati.

Pada tahun Ming Kuo ke-59 (tahun 1970), wadah Ketuhanan telah berjalan sesuai dengan relnya (berjalan lancar). Namun karena Chien Jen terlalu lelah, akhirnya timbul penyakit. Penyakit paru-parunya kambuh. Bermacam-macam obat yang digunakan masih belum bisa menyembuhkan penyakitnya. Beberapa dokter pun tidak berdaya. Pada tahun 1972, bulan 9 tanggal 29 (Tahun Ming Kuo ke-61), jasa pahala Beliau telah sempurna dan kembali ke sisi Ibunda Suci, tutup usia pada umur 64 tahun.

Wadah Ketuhanan yang Beliau kembangkan berawal dari wadah Ketuhanan Tong Yi , Hui Ying, Ci Fa, dan seterusnya berkembang sampai dengan saat ini.   Setelah    mencapai kesempurnaan, Ibunda Suci memberi Beliau gelar “Ta Te Cen Cin”.

Cheng En Ta Sien | Cang Chien Jen

Cang Chien Jen bernama (atas) Rui (bawah) Ching, berasal dari Wen Teng, propinsi San Tong. Beliau lahir pada tahun 1893 bulan 1 tanggal 18 imlek. Chien Jen sedari kecil demikian cerdas, suka membaca kitab suci Konfusius, memahami ajaran Buddha dan sangat menguasai kitab Yi Cing. Beliau pernah menjabat sebagai kepala polisi di daerah timur laut Tiongkok. Tahun 1945, berkat welas asih Chien Te Shan Chien Jen, Beliau dapat memohon Tao. Dikarenakan terus menerus disempurnakan oleh Cao Ming Chi (pengajak Cang Chien Jen), sehingga pemahaman terhadap jalan Ketuhanan lebih mendalam, akhirnya Beliau berikrar vegetarian.

Tahun 1947 bersama kedua anak beserta menantu Beliau, mereka pergi ke Taiwan dan tinggal di Tainan. Dalam keadaan yang masih tidak mudah untuk bervegetarian, membuat hati Beliau sangat risau. Akhirnya Beliau bertemu dengan Liu Chien Jen (Ta Te Cen Cin), sehingga dapat melanjutkan jodoh Buddha dan menetap di Fo Thang. Berhubung latar belakang Chien Jen adalah militer, Beliau tidak terbiasa melakukan pekerjaan kehidupan sehari-hari, sehingga Ta Te Cen Cin yang membantu Beliau, hingga suatu ketika pada saat Tribakat sedang berlatih, Para Suci berwelas asih mengatakan:”Adik Rui Ching, dengarkanlah yang jelas, segera hilangkan keakuanmu sebagai pejabat.” Maka Chien Jen pun belajar melaksanakan tugas mulai dari memasak dan menyapu. Tidak lama kemudian Para Suci kembali mengatakan:”Adik Rui Ching, dengarkan pesan, jangan hanya bisa memasak di rumah, segera keluar untuk melintaskan orang.”

Sejak saat itu, Chien Jen setiap hari keluar melintaskan orang, sehingga wadah Ketuhanan di Thai Nan mulai berkembang. Tahun 1949, Beliau sempat masuk penjara karena cobaan dari pemerintah. Di kemudian hari, Beliau pun  mengemban firman Tuhan sebagai Tien Chuan Se. 

Karena anak Beliau bekerja di Phing Tong, Beliau pun membuka ladang di sana. Pada awal membuka ladang, banyak meng-alami penderitaan dan kesulitan, namun tekad hati beliau tidak pudar sedikitpun.

Akhirnya Beliau berhasil melintasi Kuang Cheng Sien Cin, Che Cen Yen Cin, Cin Siu Sien Jen, juga telah menyempurnakan Liao Liao Ta Sien, Lei Lien Cen Chien Jen, Phu Hua Cen Cin, Sien Chin Ta Sien, Phu Chen Ta Sien, se-hingga     wadah      Ketuhanan dengan perlahan-lahan berkembang terus, sehingga baru ada wadah Ketuhanan Che Fa Kong.  Pada tahun 1971, bulan 6 tanggal 26 imlek, dalam usia 79 tahun, Beliau mencapai kesempurnaan. Pada tahun yang sama, saat mengikat jodoh, Beliau menyandang gelar sebagai ”Chan Hui Pan Cu Jen” (Penanggung jawab kelas pertobatan). Tahun 1985, Lao Se hadir berwelas asih bahwa Lao Mu telah memberikan Beliau gelar sebagai : ”Cheng En Ta Sien.”

Lien Ce Pu Sa | Lei Chien Jen

Chien Jen bermarga Lei, dengan nama : (Sang) Lien (Sia) Cen ; lahir pada tanggal 2 / 8 / 1929 penanggalan Imlek. Chien Jen berasal dari Propinsi Shan Si, Kota Han Cong, Kabupaten Nan Cen. Ayah beliau adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Keluarga beliau mengandalkan pertanian sebagai nafkah hidup, dan memiliki taraf ekonomi berkecukupan. Dikarenakan Sang Ayah lebih sering berada di luar untuk meniti karir, dan jarang mengurusi urusan rumah, maka kebanyakan urusan rumah diatur oleh paman beliau. OLeh karena itu, sejak kecil hanya dapat hidup bersama Ibunda, saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Walaupun memiliki banyak saudara, akan tetapi tidak berumur panjang. Hanya tersisa seorang koko, yang pada akhirnya juga tewas dalam peperangan membela Negara.

Kemudian hari, seisi keluarga pindah ke sebuah ruangan  di sebelah kelenteng Kuan Im di kampung tersebut. Di tempat tersebut seperti itulah Chien Jen dilahirkan. Boleh dikatakan ini adalah anak yang diberikan oleh Dewi Kuan Im. Oleh karena itu, Chien Jen sangat berjodoh dengan Dewi Kuan Im. Dalam pelaksanaan Tao di kemudian hari, juga sering mendapatkan petunjuk dan bantuan dari Dewi Kuan Im.

Kehidupan keluarga beliau sangat sederhana. Chien Jen memiliki sifat yang ramah, dan dapat memahami jerih payah dari sang Ibu, sehingga sangat berbakti kepada orang tua dan cukup dewasa dalam menghadapi persoalan. Dalam menjaga Sang Ibu di hari tua, Chien Jen senantiasa menjaga dan meramu obat sendiri; tidak pernah melemparkan pekerjaan ini kepada orang lain.

Pada tahun 1948 bersama dengan Sang Ibu mengikuti suami untuk pindah ke Taiwan. Chien Jen beruntung dapat bertemu dengan Pengajak : Nona Kan Yi Lan dan mendapatkan Tao. Berikutnya karena rekomendasi dari Nona Cang Lan Ying dapat langsung menerima inisiasi dari Cheng En Ta Sien (Cang Chien Jen). Dalam proses pembinaan diri di tengah cobaan, dikarenakan Jodoh yang kental, maka suatu kali saat tidur siang, beliau bermimpi bertemu dengan Dewa Kuan Kong yang memukul beliau dan berkata dengan tegas : [ Bukannya bergiat untuk membina dan melaksanakan Tao, malah masih  tertidur] Karena hal ini beliau terbangun, dan sang Ibu memeriksa bagian punggung beliau, dan sungguh terdapat 3 bekas pukulan. Chien Jen sangat terkejut, dan mulai saat itu berikar untuk membina dan melaksanakan Tao. Hal ini  membuktikan akar jodoh yang mendalam, barulah bisa mendapatkan petunjuk dari Para Suci.

Chien Jen membina dan melaksanakan Tao penuh dengan kesungguhan hati, Menghormati Guru dan Mengutamakan Tao, memegang erat dan mengikuti firman Tuhan dan benang mas dari Lao Chien Jen. Sering kali beliau menyampaikan budi dari Lao Chien Jen di tengah topik yang beliau sampaikan. Tiap kali sebelum dan sepulang dari luar negeri akan pergi ke Fu San untuk meminta ijin dan restu. Chien Jen sama sekali tidak berani untuk melupakan semua usaha penyempurnaan dari Ta Te Cen Cin dan Chen En Ta Sien. Chien Jen sering kali melimpahkan jasa pahala dari sidang dharma untuk kedua pendahulu (Ta Te Cen Cin dan Cheng En Ta Sien). Di Tao Se Kuan yang ada di Kuang Ci Kong, Chien Jen  khusus menempatkan rupang dari Cheng En Ta Sien untuk mengenang setiap budi dari Beliau semasa hidup dan mengenang beliau saat telah mencapai kesempurnaan.

Di kemudian hari, karena mandat dari Lao Se untuk membuka ladang sampai keluar Taiwan, Chien Jen menjadi pelopor di depan dan sama sekali tidak gentar akan tiap urusan dan penderitaan yang mungkin akan ditemui. Terhadap tiap orang yang membantu Wadah Ketuhanan, beliau tidak akan sungkan untuk menjabat tangan mereka sebagai tanda terima kasih dan terus memotivasi mereka. Hati welas asih beliau telah menggugah demikian banyak kader-kader dalam wadah Ketuhanan.

Dalam proses pembinaan dan pelaksanaan Tao, walaupun menghadapi banyak kesulitan dan cobaan, ataupun karena perbedaan pendapat yang mengakibatkan gejolak dalam wadah Ketuhanan, beliau tetap dengan berani dan mengandalkan hati nurani untuk melewatinya serta terus mengikuti Firman Tuhan dan benang emas, agar umat yang kehilangan arah dapat  kembali menaiki bahtera suci. Oleh sebab itu, Lao Se memuji budi beliau :  ’’ Dengan segenap hati mendukung segala kebajikan dan tabah dalam segala tempaan’’. Ketulusan hati Chien Jen dalam membina diri telah menggugah Yang Maha Kuasa; Saat beliau bertemu kesulitan akan segera membakar dupa dan berpuja bakti memohon Yang Maha Kuasa untuk memberikan kearifan. Setiap hari selalu berpuja bakti sebanyak 3.000 kali (3000 khou sou) baik di pagi hari maupun malam hari, memohon agar urusan Wadah Ketuhanan dapat berjalan lancar, dan umat manusia mengubah niat hati yang tidak baik. Bahkan saat jatuh sakit dan setengah sadar sekalipun, Chien Jen tidak berani melupakan urusan pelintasan umat manusia demi membalas budi serta menunaikan ikrar.

Chien Jen memohon jalan Ketuhanan pada usia 25 tahun, dan mengemban Firman Tuhan di usia 30 tahun.  Masa pembinaan dan pelaksanaan beliau telah melampaui 60 tahun, telah berkelana selama 20 tahun di luar negeri; dalam membina dan melaksanakan Tao menghadapi banyak kesulitan, menanggung berbagai fitnahan dan cobaan. Seorang Bodhisatva yang terlahir ke dunia dengan semangat perjuangan selama puluhan tahun telah berhasil melintasi puluhan ribu anak-anak Ibunda Suci.

Apa daya, karena panggilan Yang Maha Kuasa dan genapnya misi suci dengan sempurna, Chien Jen berpulang ke pangkuan Ibunda Suci. Pada tanggal 6/4/104 (23 Mei 2015), pukul 15.10 waktu setempat (Taiwan), dikarenakan fungsi pernafasan yang telah kian melemah, akhirnya Chien Jen menghembuskan nafas terakhir di kamar tidurnya dalam kondisi damai , di usia 87 tahun. Boleh dikatakan jasa pahala dan kebajikan yang sempurna menyertai kepulangan beliau ke Surga. Proses pembinaan diri, semangat dan keteladanan dari Chien Jen semasa hidup sungguh merupakan sebuah sejarah di masa pancaran putih, dan menjadi pedoman bagi setiap pembina di generasi selanjutnya, serta keharuman nama  Chien Jen akan tersebar sepanjang masa.