Cerita Bermakna

Sang Petani

Suatu hari, iblis tua melihat orang-orang di dunia hidup dengan bahagia, kemudian berkata: “Kita harus mengacaukan dunia, kalau tidak kelak keluarga iblis akan punah”. Akhirnya Iblis tua mengirim satu iblis muda untuk mengganggu seorang petani, karena melihat petani yang bekerja demikian rajin, meskipun penghasilan sebagai petani sangatlah kecil namun masih dapat merasa bersyukur dan berpuas hati.

Sang iblis muda mulai berpikir bagaimana merubah petani itu menjadi jahat? Dia lalu menggunakan ilmunya untuk merubah tanah menjadi keras, berharap petani menyerah. Tapi siapa sangka, petani terus mencangkul dari pagi hingga sore, beristirahat sejenak kemudian menggali kembali, tidak ada satu kalimat keluhan pun yang keluar dari mulutnya. Melihat hal demikian, sang iblis muda merasa rencananya telah gagal dan akhirnya kembali ke iblis tua.

Iblis tua kemudian mengirim iblis muda kedua. Iblis muda ini berpikir, “Iblis pertama sudah membuat petani ini demikian susah tapi tidak berhasil, lebih baik saya mengambil semua miliknya”. Akhirnya sang iblis muda mengambil bekal makan siang milik sang petani. “Kamu sudah bekerja demikian keras, pasti sangat lelah dan lapar, tapi saat kamu tahu sudah kehilangan bekal makan siang, pasti kamu akan sangat marah!”, pikir sang iblis.  Saat melihat bekal makan siangnya tidak ada, sang petani dalam hati berpikir “Tidak tahu siapakah yang demikian sangat membutuhkan makanan dan air, sungguh kasihan. Jika makanan itu dapat mengenyangkannya, biarkanlah.” Rencana iblis kedua juga tidak berjalan mulus, akhirnya kembali ke iblis tua.

Iblis tua mengumpulkan semua iblis sambil  berkata “Apakah memang tidak ada cara lain untuk merubah petani menjadi jahat?” Ada satu iblis muda berkata “Saya punya rencana yang pasti akan berhasil, saya jamin tidak akan gagal lagi”

Iblis muda ini mengubah parasnya seperti manusia dan berteman dengan sang petani. Petani sangat senang karena ada seseorang yang mau membantunya bertani. Dengan ilmunya, sang iblis muda ini memberitahukan kepada petani bahwa tahun depan akan terjadi paceklik dan mengajarkan cara bagaimana agar bibit tetap dapat tumbuh dan panen tidak tergganggu. Benar saja, di tahun berikutnya, petani yang lain mengalami gagal panen, hanya petani ini yang panennya berlimpah.

Selama 3 tahun iblis muda memberitahukan kepada sang petani di musim apa harus menanam apa, sehingga perlahan sang petani mulai menjadi kaya raya. Iblis muda kembali mengajarkan bagaimana membuat arak beras sehingga dapat menghasilkan lebih banyak uang. Perlahan-lahan, sang petani tidak bekerja menggarap sawah lagi, lebih memilih untuk berjualan arak beras untuk mendapatkan untung yang besar.

Suatu hari sang iblis tua datang melihat-lihat, iblis muda berkata kepada iblis tua “Lihatlah! Rencana saya berhasil, dia sudah seperti babi!”

“Setelah menjadi kaya raya, sang petani setiap malam pergi bersenang-senang, minum arak yang paling mahal, makan makanan yang paling enak, memiliki pesuruh yang setiap saat melayani, pulang selalu dalam keadaan mabuk, pakaiannya pun tidak karuan, sama seperti babi gemuk yang bodoh”, ucap sang iblis muda.

Sang iblis merasa sangat senang dan bertanya kepada iblis muda “Kamu sangat hebat! Apa yang telah kamu lakukan selama ini padanya?”

Iblis muda berkata “Saya hanya memberikan segala hal melebihi apa yang dibutuhkan olehnya, sehingga secara perlahan rasa serakahnya akan muncul”

 

Di jaman sekarang ini, banyak godaan datang sehingga membuat diri kita kurang bersyukur atas apa yang telah kita genggam dan kita miliki. Iri melihat orang lain memiliki hal yang tidak kita miliki tapi tidak berpikir apakah kita membutuhkannya. Kita hanya berlari dan mengejar tanpa berhenti sejenak untuk baik-baik merenungkan apa yang saya butuhkan. Realita yang terjadi sekarang ini adalah manusia bekerja untuk mencari kepuasan materi, membandingkan diri dengan orang lain, kehilangan jati diri yang sebenarnya, merasa saya adalah orang yang paling benar.

Manusia sudah terpengaruh dengan lingkungannya sehingga membuat suasana hatinya berubah, karakternya berubah, terbentuk sebuah kebiasaan hidup, yang pada akhirnya merubah seluruh kehidupan yang dimilikinya.

Kapankah manusia akan mulai melihat ke dalam diri untuk menemukan kembali apa yang sebenarnya kita inginkan dan kita butuhkan?